Khutbah Nikah KH. Hasib Hasan Lc, di Pernikahan Nur Shabrina Tifatul Sembiring

Nikah adalah sunnah Rasulullah. Sunnah yang dimaksud bukan dam pengertian bila dilaksanakan berpahala dan bila tidak dilaksanakan tidak berdosa. Namun nikah itu sunnah karena merupakan manhajul hayah, cara hidup. Karenanya buat mereka yang sudah dewasa baik secara biologis maupun mental dan memiliki kesiapan untuk menikah Rasulullah memerintahkan untuk menikah bukan menganjurkan!

Menikah akan mengendalikan pandangan dan memelihara kesucian nafsu seksual maka yang tidak sanggup berpuasalah. Bahkan Rasulullah mengancam, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukanlah golonganku.

Menikah adalah wujud kasih sayang Allah. Ada hikmah dan manfaat yg akan kita nikmati. Pernikahan mendatangkan ketentraman di hati kita agar terwujud rasa cinta dan kasih sayang sebagai modal untuk kehidupan berkeluarga. Cinta kasih sayang yg benar dan suci yang dibangun atas dasar pernikahan.

Dengan menikah peluang rejeki akan semakin besar. Sayyidina Abu Bakar ketika membaca ayat…”Wahai para wali, nikahkanlah orang-orang yang bersendirian diantara kamu, jika mereka adalah orang-orang miskin Allah yang akan memampukannya. Sesungguhnya Allah Maha Luas Karunia-NYA. Dia Maha Tahu siapa yg paling pantas mendapatkan karunia-NYA.

Dengan menikah seseorang akan semakin besar rasa tanggungjawabnya. Peluang rejeki akan semakin bertambah.

Manakala seorang muslim menikah, peluang godaan syetan semakin berkurang. Syetan itu bersama orang yang sendirian. Kamu harus beratu hindarilah perceraian dan perpisahan. Syetan itu senang kepada yang bersendirian. Dan dia akan jauh ketika berdua. Manakala pernikahan kita sempurnakan dengan taqwa maka akan terjadi saling nasehat menasehati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

Pernikahan akan melahirkan generasi yang shalih. Aset masa depan. Bekal kita ketika menghadap Allah swt menjadi bertambah.

Tidak otomatis orang yang menikah secara islami dapat merasakan hikmah dan manfaat seperti di atas. Boleh jadi mereka hanya sempat menikmati bulan madu. Tapi bulan-bulan yang lainnya empedu. Karena tata cara yang sesuai dengan syariat Islam hanya digunakan ketika menikah saja, selebihnya ketika menjalankan roda rumahtangga tak memiliki pedoman apatah lagi menghidupkan budaya Islami di tengah keluarga.

Padahal yang paling tahu bagaimana menjadi bahagia dan menjamin kebahagian kita bukanlah diri kita sendiri melainkan Allah. Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal dia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal dia tidak membawa kebaikan untukmu…..ALLAH MAHA TAHU

Oleh karena itu:
1. Hendaknya perlakukan pasangan dengan cara yang terbaik. Hal ini bukan hanya merupakan kewajiban suami pada istri tapi juga kewajiban istri pada suami. Bukan saja kita perlakukan dengan cara yang baik tapi lakukanlah terus menerus dengan cara yang TERBAIK. Proaktif untuk selalu berbuat baik kepada pasangan dengan cara yang ma’ruf. Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik di tengah keluarganya.

2. Apabila seorang muslim melakukan pernikahan, berarti 50 persen agamanya sudah terpenuhi. Agar lengkap bekalilah dengan ketaqwaan.

3. Nikah artinya bersatu, lawannya thalaq. Bercerai. Hakikatnya menikah adalah menyatukan visi untuk keluarga yang bertaqwa. Seorang suami harus bisa menjadi Imamul mutaqqien, karena demikianlah Rasulullah mengajarkan do’anya pada umatnya yang sudah berkeluarga. Satukan visi, langkah untuk meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Harus bekerjasama dan sama-sama kerja. Bukan sama-sama suka ngerjain. Bekerja sama untuk memperbesar aset keluarga agar semakin meningkatkan keshalihan

4. Banyak bdo’a, meminta kpd Allah.. Karena atas izin Allah dua hati berpadu menjadi satu, ikatan yang kokoh dijalin sehingga sakinah, mawaddah warahmah mewujud menjadi jiwa keluarga.

Demikianlah catatan khutbah nikah yang saya tulis sambil mendengarkan al ustadz KH. Hasib Hasan, Lc menuturkannya di prosesi akad nikah pernikahan Nur Shabrina, putri dari Menkominfo Ir. H. Tifatul Sembiring dan Sri Rahayu Purwitaningsih–sahabatku sayang.

Sebuah prosesi pernikahan yang demikian indah…khusyu’…syahdu…yang sejak awal sudah mampu menguras air mata dengan lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan dengan indah dan mampu menggetarkan kalbu.

Barakallaahulaka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Allahumma amin.

Sumber